Beberapa sore, saya sering memperhatikan anak-anak kecil di sekitar rumah. Mereka berlarian, tertawa, bersepeda ke sana kemari. Pemandangan yang sebenarnya hangat dan menyenangkan. Namun di sisi lain, ada satu hal yang membuat saya berpikir di waktu yang sama, kegiatan TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) sedang berlangsung. Tapi tidak semua anak hadir di sana.
Sore hari yang seharusnya menjadi waktu produktif untuk belajar mengaji dan pembinaan karakter, seringkali berubah menjadi waktu bermain tanpa arah. Anak-anak berkumpul di luar rumah, larut dalam permainan, bahkan terkadang lupa waktu. Di sisi lain, sebagian orang tua tampak kurang memberikan perhatian atau dorongan agar anak mengikuti kegiatan TPA.
Apakah ini menjadi kesalahan Anak?
Oh tentu tidak sepenuhnya. Anak usia SD mereka memiliki kecenderungan untuk bermain. yang menjadi masalah adalah kurangnya arahan dan pembiasaan dari lingkungan sekitar. Orang tua memiliki peran utama dalam membentuk kebiasaan anak. Bukan soal memaksa, tapi soal membiasakan. Bukan sekadar menyuruh, tapi juga mendampingi. Kadang, mungkin orang tua terlalu lelah setelah seharian bekerja. Atau merasa bahwa pendidikan agama sudah cukup didapat dari sekolah. Atau bahkan sekadar berpikir, “nanti juga anaknya akan belajar sendiri.” Padahal, anak-anak tidak selalu berjalan sendiri. Mereka butuh diarahkan, ditemani, dan diingatkan berulang kali.
Di sisi lain, ini juga bisa jadi bahan refleksi bagi pengelola TPA. Apakah suasana belajarnya sudah cukup menyenangkan? Apakah anak-anak merasa betah? Anak-anak zaman sekarang hidup di era yang penuh distraksi. Kalau cara belajar terlalu monoton, mereka akan mudah bosan. Mungkin sesekali perlu ada tawa, permainan, atau pendekatan yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Mungkin tidak ada yang salah dengan bermain. Bahkan itu bagian penting dari masa kecil. Tapi alangkah baiknya jika sore hari juga diisi dengan sesuatu yang menumbuhkan bukan hanya fisik, tapi juga hati dan nilai. Bukan berarti harus sempurna. Tidak harus setiap hari langsung berubah. Cukup dimulai dari hal kecil: mengingatkan, mengantar, atau sekadar bertanya, “hari ini sudah mengaji belum?” Karena dari hal-hal kecil itulah, kebiasaan besar bisa tumbuh.
Yuk, kita jadikan TPA sebagai salah satu ruang terbaik untuk “menyangoni” anak-anak dengan bekal agama.
Komentar